Hari itu, 3 tahun yang lalu kita bertemu. Disebuah lintasan ruangan tatapan mataku tepat mengarah padamu, kau menatap sehingga pandangan kita pun bertemu. Peristiwa itu hanya terjadi puluhan detik sampai aku menyadari bahwa dikau adalah bidadari dalam kumpulan peri di siang hari itu. Setelah pandangan pertama itu aku merasa ada yang tidak beres dengan hatiku, kontan saja aku mencoba melintas sekali lagi, mencoba memastikan bahwa bidadari yang kutatap tadi bukan hantu. Mata ini ternyata tak salah, hati langsung berdebar, sepertinya aku telah jatuh cinta at first sight. Begitu penasarannya aku sehingga kucoba tanyakan namamu pada seorang temanku, namamu disebut secara sederhana tetapi ditelingaku terdengar membahana. Azamku dalam hati, Tuhan! Pertemukan daku sekali lagi dengannya.
Dalam selang waktu beberapa minggu kemudian, seorang teman yang juga temannya temanmu mengajakku kesebuah acara di sebuah tempat di bilangan lhokseumawe. Aku dimintakan tolong untuk menjadi fotografer acaranya temanmu yang juga adalah temanku. Sekali lagi Tuhan sepertinya mendengar doaku, aku dipertemukan denganmu melalui sebuah proses yang dramatis. Momen yang kumanfaatkan betul, sebuah gulungan wayer menjadi alasanku. Saat wayer datang bersama dengan senyum manismu, aku berharap itu sebuah isyarat bahwa hatimu ingin “kuketuk”. Dalam kepolosan aku mencoba bertahan untuk tidak mengartikannya sebagai sebuah balasan sapa indah saat kutanyakan siapa namamu. Berdasarkan buku yang kubaca, aku mencoba mengabaikan jawaban dari suara lembutmu dengan sebuah candaan. Saat hari H aku bahkan sempat memintamu menjadi model foto yang kualasankan sebagai dokumentasi. Hehe, aku dapatkan fotonya.
3 bulan lamanya kita tidak bertemu, hanya sesekali selisih jalan. Pertemuan selanjutnya harus kumanfaatkan, tekadku dalam hati. Tetapi bagaimana bisa mengenalmu lebih jauh? Nomor handphone tentunya. Dasar rejeki ternyata dikau punya bisnis isi ulang pulsa. Saat akan mengisi pulsa aku mencoba meminta nomor handphonemu sambil bercanda bahwa besok-besok bisa isi pulsa lagi. Dan lagi-lagi rejeki aku dapat nomor handphonemu, gadis manis yang telah memikatku tidak hanya dari rupa, tetapi juga dari suara dan tata krama.
3 bulan lamanya aku tidak berani memulai untuk mengirimu bahkan sebuah sms, sifat jaimku masih berlaku saat itu, lebih tepatnya aku mencoba realistis “sadar diri”. Segala kekurangan yang kumiliki membuat aku pesimis termasuk dalam hal cinta, rasanya saat itu aku menggunakan analisis SWOT terhadap peluang. Aku tak berani memulai.
Selepas maghrib beberapa hari kemudian, sebuah tanda panggilan masuk muncul di layar monochrome handphoneku, namamu tertulis dengan diiringi nada panggil standar. Saat hendak kuangkat, aku mencoba berpura-pura untuk tidak kenal. Setelah kau perkenalkan aku merasa senang bukan kepalang, hehe. Katamu laptopmu sedang bervirus dan ingin diperbaiki, karena menurutmu engkau tidak tahu menahu tentang laptop maka kau minta aku untuk membantu memperbaiki laptopmu yang bervirus itu. Setelah menentukan waktu kitapun bertemu disebuah café masih dibilangan lhokseumawe. Grogi juga aku saat itu, keringat peluh bercucuran bagai rintik hujan, sehingga masalah laptop yang tadinya hanya antivirus out of date malah benar-benar bervirus setelah USB flashdisk itu kucolok ke laptopmu. Dengan segala ilmu manipulasi/kamuflase disertai kemampuan olah tingkat tinggi aku berhasil meyakinkan bahwa laptopmu bervirus dan harus diperbaiki dan butuh waktu sehari, jadi harus nginap si laptop. Setelah deal kitapun berpisah setelah menyantap hidangan malu-malu sebuah café yang cukup popular dikalangan remaja waktu itu, peristiwa lucu karena sktr 6 bulan yang lalu cintaku putus di café tetangga yang hanya berjarak hitungan meter. Hehe, disambung didaerah putus, batinku.
Esok harinya laptopmu telah siap, bahkan requestmu akan foto yang dulu pernah kujepret saat pertemuan kedua kita telah kumasukkan kedalam harddiskmu. Kuakui, penyakit teknisiku kambuh, jiwa pembajak tetap akan ada, meskipun teknisi juga memiliki kode etik. Beberapa fotomu kuambil setelah secara bercanda aku meminta padamu, hmm.. diluar prediksi dikau membolehkannya dengan beberapa syarat yang mudah saja kupenuhi. Laptop kuserahkan, didampingi seorang sahabatmu disebuah warung bakso, masih dibilangan lhokseumawe. Perpisahan hari itu diakhiri dengan ucapan terimakasihmu seolah memberikan harapan bagiku. Hari berganti hari kita semakin dekat, meski jarang bertemu, tetapi pesanmu kerap mampir diinboxku. Berbagai topik kita bahas tetapi aku masih belum berani mengungkapkan rasa dihatiku, “nembak” takut ditolak. Krisis percaya diriku masih berlanjut sampai beberapa bulan lamanya, entah kenapa setelah kita bertemu yang terakhir kemudian aku menjadi percaya diri. Coklat itu kuserahkan disiang hari dan malamnya aku coba utara baratkan isi hati. Sebuah jawaban bijak masuk bertahap ke handphoneku, terus diperbaharui sampai kata-kata …“bang, adk sebenarnya jg pny perasaan yang sama ke abg, tetapi abg tdk membalas sinyal2 yg adk kirimkan. Skrg semua sdh terlambat bang, ada org lain yang telah mengungkapkan cinta lbh dahulu sblm abg. Didlm ketidk pastian dr abg, adk tlh mutusin buat nerima Dia. Kami tlh beberapa wkt bersama dan adk tlh merasa berhutang budi pdnya. Tp yakinlah bg, jikalau jodoh gak akan kemana. Adk bkn yg terbaik buat abg, diluar sana masih bnyk wanita lain yang lebih baik utk abg miliki. Adk mnt maaf bg, andai saja waktu bisa diputar kembali. Adk cm psn 1 sama abg, klu abg suka seorang wanita, jgn menunggu lama untuk mengungkapkan cinta, jk abg sudah yakin katakan saja, diterima atau ditolak itukan biasa. Abg yg semangat ya! wass”. Sms yang mengharukan, aku tidak menangis saat itu, sebagai pria berzodiak Leo, aku keras dan tegas, tetapi mataku berkaca-kaca karena penyesalan. Penyesalan yang paling berharga..
The end? Rupanya tidak, aku masih menganggapnya sebagai sahabat meski cintaku telah ditolak. Reject me, I Love it. Sebuah cahaya tetap menerangi seperti seng bolong yang dilolosi cahaya kecil tetapi cukup membantu ruangan gelap tidak menjadi gulita. Sebelum janur kuning melambai dikau bukan milik siapa-siapa, masih milik orang tuamu. Aku tetap menjalin persabatan dengannya dengan opsi bisa memilikinya suatu hari, ini bukan posesif tetapi cinta yang telah melekat, tidak bisa pindah kelain hati. Dalam koridor realita aku mencoba mengunci sebuah kutipan mutiara “punya harapan boleh, tetapi jangan sampai terlalu berharap”.
Persahabatan kami masih hangat sampai 3 tahun kami menjalani, curahan hati saling berbagi solusi. Aku tahu diapun tahu, Tuhan kami pun tahu. Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kami berdua, tidak sekarang mungkin nanti, selagi kami masih berusaha dan berdoa.
Dia bukan wanita biasa bagiku, dia istimewa dibalik sifat manusianya. Aku hanya meminta izin untuk memilihmu, dindaku, hanya kesempatan memilih, tidak lebih. Kesempatan yang sama yang telah kau berikan pada Dia. Tetapi jangan memilihku bila tak bisa setia, karena kau yang memilih untuk memberikanku pilihan. Sekali lagi “izinkan aku memilihmu”. To be continued…